A. Pengantar
Beberapa waktu yang lalu pada suatu kajian, saat saya menyampaikan bahwa….
- Tidak ada hubungan nasab antara laki-laki dengan anak yang lahir karena hasil zinanya,
- keduanya tidak saling mewarisi,
- tidak boleh anak tersebut di nasabkan kepadanya,
- tidak ada kewajiban memberi nafkah dan lainnya,
…. ada sebuah pertanyaan yang terlontar, yaitu :
Pertanyaan ini kelihatannya aneh, karena kayaknya secara fithroh
manusia, seseorang tidak akan berfikir untuk melakukan itu. Namun
terbersit dalam pikiran saya, bahwa pertanyaan semacam ini mungkin saja
nongol di benak sebagian kaum muslimin di belahan bumi lainnya, dari
sinilah maka pembahasannya saya munculkan di edisi kali ini,
mudah-mudahan Alloh menjadikannya bermanfaat.
B. Zina perbuatan keji dan munkar
Berzina adalah perbuatan keji dan munkar dalam pandangan semua agama,
tidak pernah ada agama satupun yang membolehkannya. Dan Alloh Ta’ala
dengan tegas mengharamkannya juga mengharamkan semua jalan yang menuju
pada perbuatan keji ini.
Alloh berfirman :
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, karena itu adalah perbuatan keji dan jalan yang jelek.” (QS. Al Isro’ : 32)
oleh karena itu Rosululloh menjadikan zina ini adalah diantara salah satu penyebab seorang muslim boleh untuk dibunuh
عَنْ عَبْدِاللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالْمَارِقُ مِنَ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ
Dari Abdulloh bin Mas’ud dari Rosululloh bersabda : “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwasannya tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Alloh dan sesungguhnya saya adalah Rosululloh kecuali dengan salah satu dari tiga perkara : Membunuh jiwa, orang yang sudah pernah nikah lalu berzina dan orang yang meninggalkan agamanya dan menyelisihi jamaah.”(HR. Bukhori 6878, Muslim 1676)
perbuatan zina ini sebagaimana bertentangan dengan syara’, juga
bertentangan dengan akal sehat, sampaipun akalnya para binatang.
Perhatikanlah kisah aneh yang dikisahkah oleh Imam Bukhori no : 3849
عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُمْ
Dari Amr bin Maimum Al Audi berkata : “Saya melihat pada zaman jahiliyyah kera-kera mengepung seekor kera yang berzina. Lalu mereka merajamnya , maka saya pun ikut merajamnya.”
Subhanalloh, wahai orang yang melakukan dan melegalisasikan
perzinaan, apakah kalian tidak malu denga si kera, yang merajam temannya
sendiri karena berzina ataukah kalian lebih rendah daripada si kera ?
wal iyadzu billah dari kerusakan akal dan hati.
Oleh karena itu Alloh menjadikan hukuman perbuatan zina ini sangat
berat, lebih berat dari pada hukuman pembunuhan, pencurian dan lainnya.
Bagi orang yang muhshon (sudah pernah menikah secara halal) maka
hukumannya adalah dirajam sampai meninggal dunia sedangkan bagi yang
belum menikah maka dicambuk seratus kali lalu diasingkan selama setahun.
Alloh Ta’ala berfirman :
لزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ
“Perempuan yang berzina dengan laki-laki yang berzina, maka cambuklah keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Alloh.” (QS. An Nur : 2)
Dari Jabir bin Abdillah al Anshori : bahwasanya ada seseorang dari
kabilah Aslam datang kepada Rosululloh dan mengatakan bahwa dirinya
telah berzina, dan dia bersaksi empat kali atas hal itu, maka Rosululloh
memerintahkannya untuk dirajam. Dan dia itu adalah seorang yang
muhshon.” (HR. Tirmidzi : 1454, Abu Dawud : 4407 lihat Shohih Abu Dawud :
3725)
Dan tidak sampai disini saja, tapi Rosululloh juga menafikan nama iman bagi orang yang berzina, sebagaimana dalam hadits
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ
Dari Ibnu Abbas berkata : “Rosululloh bersabda : “Tidaklah seorang hamba berzina saat dia berzina dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhori : 6772)
C. Nasab anak zina
Namun dengan keharaman yang sangat keras tersebut, bisa saja seorang
muslim karena kelemahan imannya terjerumus kedalamnya. Yang dari
hubungan haram tersebut sangat dimungkinkan lahirnya seorang anak, lalu bagaimanakah dengan masalah nasabnya ?
Para ulama’ sepakat bahwa apabila seorang laki-laki berzina dengan
seorang wanita, lalu dia hamil dari hasil zina tersebut dan melahirkan
seorang anak, maka anak tersebut dinasabkan kepada ibunya dan tidak ada
hubungan nasab sama sekali antara dia dengan laki-laki yang menghamili
ibunya.
(Lihat masalah ini pada At Tamhid oleh Imam Ibnu Abdi Bar 7/183, Al
Istidzkar oleh beliau juga 22/177, Al Majmu’ Syarah Muhadzab oleh Imam
Nawawi 19/48, Al Muhalla oleh Ibnu Hazm 10/323, Zadul MA’ad oleh Imam
Ibnul Qoyyim)
Hal ini berdasarkan hadits berikut :
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا لَاعَنَ امْرَأَتَهُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَانْتَفَى مِنْ وَلَدِهَا فَفَرَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُمَا وَأَلْحَقَ الْوَلَدَ بِالْمَرْأَةِ
Daro Abduloih bin Umar berkata : “Sesungguhnya seorang laki-laki meli’an 1 isrtinya pada zaman Rosululloh dan tidak mengakui anaknya, maka belia memisahkan antara keduanya da n menasabkan anak tersebut kepada ibunya.” (HR. Bukhori : 6748, Muslim : 1494)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ اخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فِي غُلَامٍ فَقَالَ سَعْدٌ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ أَخِي عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابْنُهُ انْظُرْ إِلَى شَبَهِهِ وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ هَذَا أَخِي يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي مِنْ وَلِيدَتِهِ فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شَبَهِهِ فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ
Dari Aisyah berkata : Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Abd bin Zam’ah bertengkar mengenai seorang anak, Sa’d berkata : Wahai Rosululloh,, ini adalah keponakanku (anak saudaraku) yang bernama Utbah bin Abi Waqqosh, dia berpesan kepadaku bahwa ini ini adalah anaknya, lihatlah pada kemiripan antara keduanya.”Lalu Abd bin Zam’ah berkata : “Wahai Rosululloh, ini adalah saudaraku, dia terlahir di firosy 2 bapakku dari budak wanitannya.”Maka, Rosululloh pun memandanganya dengan cermat dan beliau melihat adanya kemiripan yang jelas antara dia dengan Utbah bin Abi Waqqosh, namun beliau bersabda : “Dia saudaramu wahai Abd bin Zam’ah, Anak itu milik yang memiliki firosy, dan bagi seorang pezina hanyalah kerugian.” (HR. Bukhori : 6750, Muslim 2/180)
Sisi pengambilan dalil dari hadits ini adalah sabda Rosululloh : “Dan
bagi seorang pezina hanyalah kerugian.” Yang mana konsekwensinya bahwa
seorang yang berzina tidak memiliki nasab anak tersebut, karena dia
tidak memiliki firosy.
Adapun kenapa kok di nasabkan kepada ibunya ? maka jawabannya jelas
yaitu karena anak itu memang terlahirdari rahim ibu tersebut, sama saja
apakah lahir karena nikah syar’i ataukah kerena zina. (Lihat Fathul Bari
10/36, Al Majmu’ Syarah Muhadzab 19/38)
Yang mana konsekwensi dari tidak adanya hubungan nasab antara
keduanya adalah keduanya tidak saling mewarisi, laki-laki tersebut tidak
boleh menjadi wali pernikahan anak perempuan dari hasil zinanya dan
beberapa hal lainnya yang seharusnya di perbolehkan bagi seorang bapak
pada anaknya.
D. Lalu bagaimana dengan menikahinya?
Dinukil adanya dua pendapat ulama’ dalam masalah ini.
- Imam Syafi’i dan Malik dalam riwayat yang masyhur dalam madzhab mereka membolehkan menikah dengan anak perempuan dari hasil zinanya. (Lihat Al Um oleh Imam Syafi’i 5/42 3, Al Majmu’ oleh Nawawi 17/386, Roudlotuth Tholibin 5/447, At Tamhid oleh Ibnu Abdil Barr 8/191). Hanya saja Imam Ahmad mengingkari bahwa hal ini pernah di katakan oleh Imam Syafi’i dan Malik (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 32/142) juga Imam Ibnul Qoyyim dan Syaikh Al Albani mengingkari pendapat ini pernah dikatakan oleh Imam Syafi’i (Lihat i’lamul Muwaqqi’in 1/47, Tahdzirus Sajid hal : 53)
Dalil yang mereka gunakan adalah bahwa anak perempuan hasil zina
tersebut bukan anak perempuannya secara hukum syar’i, oleh karena itu
keduanya tidak saling mewarisi, tidak wajib memberi nafkah dan tidak
boleh menjadi wali dalam pernikahan anak wanita tersebut serta tidak
berlaku seluruh hubungan nasab antara keduanya, maka kalau memang anak
wanita tersebut secara syar’i bukan anaknya, berarti tidak masuk dalam
keumuman firman Alloh :
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ
“Dan diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu…” (QS. An Nisa’ :23)
dan malah kebalikannya termasuk dalam keumuman firman Alloh :
وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ
“Dan dihalakan bagi kalian semua selain yang demikian.” (QS. An Nisa’ : 24)
- Sedangkan Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan jumhur Ulama’ melarang seorang laki-laki menikah dengan anak wanita hasil zinanya dengan dalil bahwa dia termasuk dalam keumuman firman Alloh Ta’ala, yang artinya :
“Dan diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu…” (QS. An Nisa’ : 23)
karena lafadz : “anak-anak perempuan kalian.” Mencakup semua anak perempuannya
dan anak tersebut memang tercipta dari air maninya. (Lihat Al Mughni
oleh Imam Ibnu Qudamah 9/529, Bada’i Shona’i oleh Al Kasani 3/1385)
dan madzhab inilah yang benar –insya Alloh -.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah setelah memaparkan kedua madzhab berkata :
dan madzhab inilah yang benar –insya Alloh -.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah setelah memaparkan kedua madzhab berkata :
“Dan pendapat (kedua) inilah yang benar, sehingga jumhur ulama’ berselisih pendapat apakah orang yang melakukan pernikahan tersebut dihukum bunuh ataukah tidak ? mereka berselisih menjadi dua pendapat. Imam Ahmad menyatakan bahwa yang melakukannya dibunuh apabila tanpa alasan.” (Majmu’ Fatawa 32/134)
E. Bantahan kepada mazhab pertama :
Adapun apa yang mereka katakan bahwa antara keduanya tidak ada
hubungan nasab, maka telah dibantah dengan sangat bagus oleh Syaikhul
Islam, Beliau berkata : “Adapun dalil madzhab jumhur Ulama’ adalah
firman Alloh (yang artinya):
“Dan diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu…”(QS. An Nisa’ : 23)
Ayat ini mencakup semua yang disebut sebagai “anak wanita” baik secara hakiki maupun majazi,
sama saja apakah antara kedanya terdapat hubungan saling mewarisi dan
hukum-hukum nasab lainnya ataukah tidak ? karena keumuman yang terdapat
pada ayat tahrim (wanita yang diharamkan menikahinya, yang terdapat pada
An Nisa’ : 22-25) itu bukan seperti keumuman yang terdapat pada ayat
warisan serta ayat lainnya seperti pada firman Alloh :
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ
(QS An Nisa’ : 11)
hal ini bisa dijelaskan dari tiga sisi :
Pertama :
Bahwa ayat tahrim mencakup anak wanita, cucu wanita dari anak
laki-laki, cucu wanita dari anak wanita, sebagaimana kata : “bibi” juga
mencakup bibinya bapak, juga mencakup ibu dan kakeknya bapak. Demikian
juga mencakup anak wanita dari saudara wanita, serta anak wanita dari
keponakan laki-laki dan anak wanita dari keponakan wanita. Dan keumuman
seperti ini tidak terdapat dalam ayat warisan juga ayat lainnya yang
berhubungan dengan hukum nasab.
Kedua :
Sesungguhnya haramnya menikah bisa terjadi karena sebab susuan, sebagaimana sabda Rosululloh :
“Diharamkan karena hubungan persusuan sebagaimana diharamkan karena hubungan nasab.”(HR. Bukhori Muslim)
Hadits ini disepakati keshohihannya serta diamalkan oleh seluruh para
ulama’. Dari sini Alloh mengharamkan seorang wanita untuk menikah
dengan seorang laki-laki yang pernah dia beri minum air susunya, juga
tidak boleh baginya untuk menikah dengan anak keturunan anak tersebut,
dan anak tersebut tidak boleh menikah dengan ibu serta bibi dari ibu
susunya, bahkan anak susu wanita haram menikah dengan suami ibu susunya,
maka jika seorang laki-laki haram menikah dengan anak wanita yang
disusui istrinya padahal antara keduanya tidak ada hubungan nasab
apapun selain sekedar menjadi mahrom saja, lalu bagaimana halal menikah
dengan anak wanita hasil zinanya ? padahal dia tercipta dari air maninya
? mana yang lebih berat antara yang tercipta dari air maninya ataukah
yang sekedar minum air susu istrinya ?
Ketiga :
Alloh berfirman :
وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ
“Dan istri anak-anak kandung kalian.” (QS. An Nisa’ : 23)
Para ulama’ berkata : Hal ini untuk mengeluarkan anak angkatnya, sebagaimana dalam firman Nya :
وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ
“Dan Alloh tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kalian(QS. Al Ahzab : 4)
dan diketahui bersama bahwa orang-orang pada zaman jahiliyyah mereka
menganggap anak zina sebagai anaknya itu lebih mereka utamakan daripada
anak angkat, maka kalau Alloh mengkhususkan keharaman hanya untuk anak
anak kandung, berarti lafadz : “anak-anak wanita kalian.” Mencakup semua anak wanita yang masuk dalam cakupan bahasa mereka saat itu.
Adapun yang mereka katakan bahwa keduanya tidak saling mewarisi, maka
jawabannya bahwa hukum nasab itu bisa terpisah-pisah, mungkin saja
berlaku sebagian hukum nasab tanpa sebagian lainnya, sebagaimana
sebagian besar yang menentang jumhur ulama; dalam masalah ini sepakat
bahwa anak yang di li’an itu haram bagi bapak yang meli’annya namun tidak mewarisinya, juga sebagaimana kisah Abd ibnu Zam’ah, dimana setelah Rosululloh menghukumi bahwa anak itu adalah saudara Abd ibnu Zam’ah, namun beliau berkata kepada Saudah binti Zam’ah : “Berhijablah engkau darinya wahai Saudah.”
Di hadits ini Rosululloh menjadikannya sebagai saudara Saudah dalam hal saling mewarisi namun tidak dalam kemahroman.” (Lihat Majmu’ Fatawa 32/142 dengan sedikit diringkas, dan lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 1/469, Jami’ Ahkamin Nisa’ 3/43)
Wallohu a’lam
Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf
1 Li’an
adalah kalau seorang suami menuduh istrinya berbuat zina sedangkan dia
tidak bisa mendatangkan empat saksi dan istrinya tidak mau mengaku, maka
hukumnya si suami dihukum cambuk 80 kali karena telah menuduh zina
tanpa bukti, namun agar dia tidak dicambuk maka dia bersumpah empat kali
bahwa dia benar dalam tuduhannya dan yang kelima bahwa laknat Alloh
akan menimpanya kalau dia berdusta, begitu pula si istri bersumpah empat
kali kalau tuduhan suaminya dusta dan yang kelima bahwa kemarahan Alloh
akan menimpanya kalau tuduhan itu benar.
2 Firosy
adalah istri atau budak wanita, artinya bahwa seseorang yang dilahirkan
oleh seorang wanita maka dia adalah anak suami atau tuan dari wanita
tersebut, baik ada kemiripan antara keduanya ataukah tidak
3 Beliau berkata :
“Kalau ada seorang wanita yang hamil dari hasil zina , baik yang berzina dengannya mengaku ataupun tidak mengaku, lalu si wanita tersebut menyusuinya, maka anak tersebut adalah anaknya dan bukan anak laki-laki yag berzina dengannya. Dan saya benci -untuk sebagai sikap waro’ – bagi laki-laki tersebut untuk menikahi anak wanita dari hasil zinanya, namun jika dia menikah dengan anak zinanya tersebut maka tidak saya pisahkan keduanya karena dia memang bukan anaknya sebagaimana dihukumi oleh Rosululloh.”
0 komentar:
Posting Komentar