إن الحمد
لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا،
ومن سيئات
أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادى له،
وأشهد أن
لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله.
{يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالًا
كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}[النساء/1]
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}[آل عمران/102]
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}[الأحزاب/70، 71]
فإن خير
الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد
وشر
الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan risalah
ringkas ini, dengan mengharap kepada Alloh agar memberkahinya dan mencocokan
kebenaran pada tulisan ini, dan menjadi simpanan kebaikan kami disisinya.
Kami tidak membawa perkara baru dan asing bagi
pembaca, kami hanyalah menukil dalil dan menyampaikan kalam ulama dalam masalah
ini, bukan hasil ijtihad atau ro’yu kami, karena siapa kami ini, sampai berbuat
yang bukan menjadi porsi kami.
Demikianlah ,semoga Alloh membimbing kita diatas
jalanNya, dan membawa tangan dan kaki serta seluruh anggota badan kita kepada
keridoanNya.
Dan kami beri judul risalah singkat ini dengan:
WAROL ALIAS BIAWAK, HALALKAH ??
Ditulis oleh:
Abu Turob Saif bin Hadhor Al-jawi
Argamulya Bengkulu Utara 15 Jumadal Ula 1433 H
Pengertian Biawak
Biawak, dalam bahasa Arobnya adalah Warol (ورل), berkata Ibnu Mandzur rohimahullooh di
Lisanul ‘Arob:
(ورل) الوَرَلُ دابَّةٌ على خِلقة الضَّبِّ، إِلاّ أَنه أَعظم منه، يكون في
الرِّمال والصَّحارِى. والجمع أَوْرالٌ في العدد ووِرْلانٌ وأَرْؤُل بالهمز.
Warol adalah semacam reptile (binatang melata),
seperti bentuk Dhobb (sejenis kadal), hanya saja lebih besar dari pada dhobb,
terdapat di gurun pasir dan lembah lembah bebatuan, jamaknya adalah : Aurool,
Warlaan dan Arwal. Selesai.
Berkata Ad-Daamiri di Hayatul Hayawaan (2 / 244)
الورل: بفتح الواو والراء
المهملة، وباللام في آخره، دابة على خلقة الضب، إلا أنه
أعظم منه، والجمع أورال وورلان والأنثى ورلة. كذا قاله ابن سيده.
Warol itu dengan fathah pada wawu dan ro, dan
laam di akhirnya, adalah seekor reptile (binatang melata) seperti bentuk Dhobb
(sejenis kadal), hanya saja lebih besar dari pada dhobb, dan jamaknya adalah:
Aurool, dan Warlaan, untuk jenis betinanya Warlah.
وقال القزويني: إنه العظيم من الوزغ، وسام أبرص طويل الذنب سريع السير،
خفيف الحركة.
Berkata Al Qozuwaini: dia itu tokek besar, Saam
Abros (semacam kadal) panjang ekornya, dan cepat jalannya, ringan gerakannya.
وقال عبد اللطيف البغدادي: الورل
والضب والحرباء، وشحمة الأرض، والوزغ، كلها متناسبة في
الخلق، فأما الورل، وهو الحرذون، فليس في الحيوان أكثر سفاداً منه، وبينه وبين الضب عداوة، فيغلب الورل الضب ويقتله، لكنه لا يأكله
كما يفعل بالحية، وهو لا يتخذ بيتاً لنفسه ولا يحفر له جحراً بل يخرج الضب من جحره صاغراً، ويستولي
عليه، وإن
كان أقوى براثن منه، لكن الظلم يمنعه من الحفر، ولهذا يضرب بالورل المثل في الظلم، ويكفي في ظلمه أنه يغصب
الحية جحرها ويبلعها، وربما قُتل، فوجد في جوفه الحية العظيمة، وهو لا يبتعلها حتى يشدخ رأسها، ويقال إنه يقاتل الضب.
Berkata ‘Abdul Lathief Al Baghdaadi: Warol
dan Dhobb dan Harbaa (semacam bunglon), Syahmatul Ardhi (semacam
kadal), dan Wazagh (Tokek) semuanya berdekatan bentuknya.
Adapun Warol (biawak) atau dalam bahasa lainnya
Al-Hirdzaun, maka tidak ada dalam sapta yang lebih banyak kawinnya
daripadanya, dan terjadi perseteruan keras antara dia (biawak) dengan Dhobb,
dan biawak selalu mengalahkan dhobb dan membunuhnya, akan tetapi tidak mau
memakannya, tidak seperti yang dia lakukan terhadap ular.
Dia itu tidak mau membuat rumah sendiri, dan
tidak mau menggali lubang untuk tempat tinggalnya, akan tetapi kerjanya
mengusir dhobb dari lobangnya yang kecil, lalu dia menguasainya dan tinggal di
situ, sekalipun sebenarnya cakarnya lebih kuat (untuk menggali lobang) akan
tetapi kedholimannya mencegah dia untuk menggali. maka dari itu biawak di
jadikan perumpamaan dalam kedholiman dan kelaliman (dictator), maka cukup
sebagai tanda kebiadabannya, adalah bahwa dia merampas lobang ular, dan menelan
ular tersebut, dan bahkan terkadang jika biawak itu terbunuh, kita dapatkan di
perutnya ular besar, dan biawak tidak menelan ular sampai dia melumat
(menghancurkan kepalanya), dan dikatakan bahwa biawak memangsa dhobb.
Berkata Al- Jaahidh :
والجاحظ يقول: إن الحرذون غير
الورل، ووصفه بأنه دابة تكون غالباً بناحية مصر، مليحة
موشاة بألوان كثيرة، ولها كف ككف الإنسان مقسومة أصابعها إلى الأنامل، وهو يقوى الحيات، ويأكلها أكلاً ذريعاً، ويخرجها من جحرها
ويسكن فيه وهو أظلم ظالم.
Sesungguhnya Al- Hirzdaun itu bukan warol,
kemudian dia mensifati biawak bahwa dia itu reptile yang biasanya terdapat di
ujung-ujung daratan Mesir (kota), bentuknya bagus dan memiliki warna-warni, dan
memiliki telapak tangan seperti telapak tangan manusia, dengan jari jemari
sampai ujung kuku, dan dia bisa mengalahkan ular, dan memangsanya dengan sangat
ganas, dan mengusir ular dari lobangnya lantas dia menempatinya, maka biawak
itu sebuas-buas binatang. (binatang yang paling dholim).
وزعم أنَّهُمْ يقولون: أَظْلَمُ
مِنْ وَرَل، كما يقولون: أظْلَمُ مِنْ حَيّة، وكما يقولون:
أظْلَمُ مِنْ ذِئْبٍ، ويقولون: من اسْتَرْعى الذِّئْبَ ظلم .
Dalam pepatah Arob mengatakan: dia itu
lebih jahat dari pada biawak, sebagaimana mereka mengatakan lebih jahat ganas
dari ular, seperti ungkapan mereka: lebih dholim dari serigala, dan mereka juga
mengatakan: siapa yang menutupi aibnya srigala, berarti telah berbuat dholim
(aniaya). Selesai.
Di Ensklopedi Bahasa Indonesia pada kata dasar
Biawak disebutkan:
Biawak adalah sebangsa reptil, yang
masuk ke dalam golongan kadal besar, suku biawak-biawakan (Varanidae) .
Biawak dalam bahasa lain, disebut
sebagai bayawak (Sunda), menyawak atau nyambik
(Jawa), berekai (Madura), dan monitor
lizard atau goanna (Inggris).
Biawak banyak macamnya. Yang terbesar dan
terkenal ialah biawak komodo (Varanus komodoensis), yang
panjangnya dapat melebihi 3m. Biawak ini, karena besarnya, dapat memburu rusa, babi hutan
dan anak kerbau.
Habitat dan makanan biawak:
Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau
saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Di
perkotaan, biawak kerap pula ditemukan hidup di gorong-gorong saluran air yang
bermuara ke sungai.
Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu,
berbagai jenis kodok,
ikan, kadal, burung,
serta mamalia
kecil seperti tikus
dan cerurut.
Biawak pandai memanjat pohon.
Di hutan bakau, biawak kerap mencuri telur, atau
memangsa anak burung. Biawak juga memakan bangkai, telur kura-kura, penyu atau buaya.
PERBEDAAN ANTARA DHOBB DAN BIAWAK
(WAROL).
Berkata Ibnu Mandzur di lisanul ‘Arob (1 /
538)
قال أَبو منصور: الوَرَلُ سَبْطُ
الخَلْق، طويلُ الذَّنَب، كأَنَّ ذَنبه ذنبُ حَيَّة،
ورُبَّ وَرَلٍ يُرْبي طُولُه على ذراعين، وذَنَبُ الضَّبِّ ذو عُقَد، وأَطولُه يكون قَدْرَ شِبْر. والعرب تَسْتَخْبِثُ الوَرَلَ،
وتستقذره، ولا تأْكله. وأَما الضَّبُّ، فإِنهم يَحْرِصُو على صَيْده، وأَكله. والضَّبُّ أَحْرَشُ الذَّنَب، خَشِنُه مُفَقَّرُه، ولونُه
إِلى الصُّحْمَةِ، وهي غُبْرَة مُشْرَبةٌ سَواداً، وإِذا سَمِنَ اصْفَرَّ صَدْرُه، ولا يأْكل إِلاَّ الجَنادِبَ، والدَّبى، والعُشْبَ، ولا
يأْكل الهَوامَّ. وأَما الوَرَلُ فإِنه يأْكل العقارب، والحيات، والحَرابِيَّ، والخنافس .
Berkata Abu Manshuur : biawak itu sedang
bentuknya, dan panjang ekornya,seakan-akan ekornya seperti ekor ular, dan
beberapa jenis biawak jika di pelihara akan bisa mencapai dua hasta panjangnya,
adapun ekor dhobb memiliki ikatan yang paling panjang sekitar satu
jengkal, dan orang-orang Arab menggolongkan biawak termasuk binatang yang
menjijikkan, dan mereka tidak mau mengkonsumsinya (memakannya), adapun dhobb
maka mereka semangat untuk memburunya dan memakannya, dhobb itu ekornya kasar,
kesat dan bersisik, dan warnanya lebih dekat dengan warna tanah, berdebu
kehitam-hitaman, dan jika telah menggemuk maka menguning dadanya, dan dhobb
tidak memangsa kecuali belalang dan yang sejenisnya, rerumputan dan tidak
mau memakan kutu, serangga dan yang sejenisnya, adapun warol (biawak) maka dia
itu makan kalajengking (scorpio), ular-ular , serangga, dan kelelawar. Selesai.
Hukum Memakan Biawak
Sebelum kita membicarakan masalah hukum
memakan biawak, akan kami tampilkan beberapa kaidah yang berfaedah dari
ucapan para ulama dalam masalah penghalalan dan pengharaman hewan yang tidak
ada nash shorihnya dari kitab dan sunnah,
agar bisa menjadi timbangan dalam masalah ini.
Berkata Ad-Daamiri rohimahulloh di Hayaatul
Hayawaan (2/244-245):
تنبيه مهم: إعلم أنه تقدم في هذا
الكتاب، حيوانات لم تتعرض الأصحاب لها بالحل ولا بالحرمة،
وذلك نحو البلنصى، والدبل، والقرعبلان، والقرز، والقنفشة، والورل، وغير ذلك، إلا أنهم أعطوا قواعد كلية عامة، وقواعد
خاصة، وذلك لما أيسوا من الطمع في حصر
أنواع الحيوانات.
فمن قواعدهم الخاصة: تحريم كل ذي
ناب من السباع، ومخلب من الطير، وكل ما يقتات من النجاسات
والخبائث، وكل ما نهي عن قتله، أو أمر بقتله، أو تولد بين مأكول وغيره، وكل نهاش،
والحشرات بأسرها، إلا الضب، واليربوع، والقنفذ، وابن عرس، والدلدل.
Peringatan penting: ketahuilah bahwa telah
lewat dalam kitab ini, beberapa hewan yang tidak di singgung oleh para pakar
akan kehalalan dan keharomannya, seperti balnashi, ad-dubl, al-qoro’balan,
al-qonfasyah, dan warol, serta yang lainnya, hanya saja mereka meletakkan
kaidah-kaidah umum menyeluruh, dan kaidah-kaidah khusus, hal itu di karenakan
tidak ada kemampuan untuk membatasi berbagai jenis binatang, dan diantara
kaidah khusus itu adalah :
- Di haramkan semua binatang buas yang bertaring.
- Setiap burung yang bercakar tajam, (untuk mencengkeram mangsa).
- Setiap yang memakan najis-najis dan barang-barang kotor dan menjijikkan.
- Setiap binatang yang syari’at melarang untuk membunuhnya.
- Setiap binatang yang syari’at menyuruh untuk membunuhnya.
- Setiap binatang yang di lahirkan dari hasil silang antara binatang yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan.
- Setiap serangga yang membahayakan, kecuali dhobb, yarbu’, qunfud (landak) dan ibnu ‘urs dan duldul.
ومن قواعدهم الخاصة أيضاً
تحليل كل ذات طوق، ولقاط، وطيور الماء كلها، إلا اللقلق كما تقدم.
Dan diantara kaidah-kaidah mereka yang khusus
juga adalah:
- Menghalalkan setiap binatang yang memiliki paruh, dan pengais, serta seluruh jenis burung air, kecuali laq-laq (bangau).
Berkata Arrofi’i:
ورجع الرافعي أنه يرجع فيه إلى
استطابة العرب وعدمها، لقوله تعالى: “يسألونك ماذا أحل
لهم قل أحل لكم الطيبات”، وليس المراد الحلال، وإن كان قد ورد الطيب بمعنى الحلال،
الحمل عليه
يخرج الآية عن الإفادة، والعرب أولى باعتبار ذلك، لأن الدين عربي، والنبي صلى الله عليه وسلم عربي، وإنما
يرجع في ذلك إلى سكان البلاد، والقرى، دون آجلاف البوادي، الذين يأكلون ما دب، ودرج، من غير تمييز.
Bahwa sebagai rujukan dalam masalah ini,
(pengharaman dan penghalalan bintang yang tidak ada nashnya), adalah dengan
merujuk kepada apa yang dianggap thoyyib (baik), oleh orang Arob dan tidaknya,
karena firman Alloh subhaanahu wata’ala :
﴿يسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات﴾
”Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang
dihalalkan bagi mereka. Katakanlah: bahwa dihalalkan untuk kalian segala yang
thoyyib” dan bukanlah yang dimaksud dengan thoyyib dalam ayat ini adalah
sesuatu yang halal, karena kalau ayat itu dibawa kesana, menjadikan ayat ini
keluar dari faedah, maka orang arab adalah orang yang paling utama untuk di
terima dan dianggap dalam masalah ini, (thoyyibat dan khobitsaat), karena agama
ini bersumber dari arab, dan nabi shollalloohu’alaihi wasallam juga orang
arab.
Dan yang bisa dijadikan bahan rujukan adalah
penduduk kota
dan desa yang netap, bukan orang-orang baduwi yang mereka makan apa saja, yang
mereka sukai tanpa pilah pilih.
Beliau juga menuturkan:
قال الرافعي: من الأصول المرجوع إليها في التحريم والتحليل الاستطابة
والاستخباث.
Dan diantara pokok-pokok yang bisa dijadikan
bahan rujukan dalam pengharaman dan penghalalan, adalah anggapan baik dan
bersih (layak di makan), dan anggapan buruk dan kotor (menjijikkan). Dan apa
yang dipandang orang arab, adalah yang paling utama untuk diambil dalam masalah
ini.
- · وقال بعضهم: المعتبر الرجوع إلى عادة العرب، الذين كانوا في عهد سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم، لأن الخطاب كان لهم. ويشبه أن يقال: يرجع في كل زمان إلى العرب الموجودين فيه.
Dan sebagian ulama mengatakan bahwa
bahan rujukan yang mu’tabar (bisa diterima dan dianggap), adalah adat orang
arab pada zaman nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam, karena merekalah yang
diajak bicara (turunnya ayat kepada mereka), dan mungkin lebih baik, jika
diungkapkan begini: dikembalikan permasalahan ini kepada orang arab, pada
setiap zaman yang ada pada waktu itu.
Selanjutnya Ad-Damiri menyatakan:
وإذا اختلف المرجوع إليهم،
فاستطابته طائفة، واستخبثته طائفة، اتبعنا الأكثرين، فإن
استوت الطائفتان، قال المارودي في الحاوي، وأبو الحسن العبادي: إنه يتبع قريش، لأنهم قطب العرب، وفيهم النبوة، فإن اختلفت قريش أو
لم يحكموا بشيء، اعتبر، أقرب الحيوانات شبهاً به. والشبه يكون تارة في الصورة، وتارة في الطبع من السلامة والعدوان، وأخرى في طعم اللحم،
فإن تساوى الشبه أو لم يوجد ما يشبه
ففيه وجهان. انتهى.
Jika terjadi perbedaan pendapat dalam anggapan
baik dan buruk, karena sebagian mereka menganggap baik, dan sebagian mereka
merasa jijik, maka kita ikuti pendapat mayoritas, (yang paling banyak); jika
seimbang, maka kita ikuti orang quroisy, karena mereka adalah pusat dan poros
orang arab, dan pada mereka ada kenabian, dan jika orang-orang quraisy
berselisih pendapat, atau mereka menghukumi sesuatu, maka dilihat
binatang yang paling mirip dengannya, dan kemiripan terkadang bisa diketahui
pada bentuknya, terkadang dilihat pada tabiatnya, yaitu aman dari permusuhan
antar binatang tersebut, dan juga terkadang pada rasa dagingnya, dan jika
ternyata semuanya mirip, atau tidak ada yang mirip dengannya, maka padanya
terdapat dua pendapat. Selesai.
(Kesimpulan):
Selanjutnya Ad-Damiri menyatakan :
ومن هذه القواعد، يؤخذ تحريم
الورل، لأنه من الحشرات، ولم يستثنوه. ومما يدل على منع أكل الورل، قول الجاحظ وغيره: إن الورل يقوي على الحيات،
ويأكلها أكلاً ذريعاً، ويخرجها من جحرها، ويسكن فيه.
Dari kaidah-kaidah diatas di ambil
kesimpulan akan keharaman warol (biawak), karena dia termasuk serangga (hama) yang tidak mereka
kecualikan.
Dan diantara dalil yang menunjukkan terlarangnya
makan warol adalah ucapannya Al-Jaahidh dan lainnya: dan dia bisa mengalahkan
ular, dan memangsanya dengan sangat ganas, dan mengusir ular dari lobangnya,
lantas dia menempatinya.
الحكم: مقتضى ما تقدم من أكله الحيات أنه يحرم، وهذا هو الظاهر من قول
الأقدمين
Hukum makan biawak, dari penjabaran di atas
diantaranya bahwa biawak itu suka makan ular, maka dia itu haram, dan ini
adalah yang nampak dari ungkapan orang-orang terdahulu (salaf). selesai.
Faedah : kami sempat bertanya kepada Syaikh Yahya hafidhohulloh dua hari sebelum
makalah ini ditulis (tanggal 11 Jumadal Ula 1433.H) tentang pendapat beliau
dalam masalah biawak, maka beliau menjawab bahwa beliau sependapat dengan
Ad-Daamiri.
Ringkasan Atas Keharaman Daging Biawak
1. Biawak Harom, Karena Khobits, sesuai dengan
firman Alloh subhaanahu wata’aalaa :
﴿يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ
الطَّيِّبَاتُ﴾ [المائدة : 4]
“Mereka bertanya: Apa yang dihalalkan bagi
mereka, katakanlah: di halalkan bagi kalian yang thoyyib-thoyyib (yang
baik-baik)”.
Dan firman Alloh subhaanahu wata’aalaa:
﴿وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ
الْخَبَائِثَ﴾ [الأعراف : 157]
Dan dihalalkan bagi mereka at-thoyyibaat, dan
diharamkan atas mereka al-khobaaits (yang jorok-jorok).
Dan ayat ini dijadikan sandaran kuat oleh imam
As-Syafi’I rohimahullooh, dalam masalah penghalalan dan pengharaman hewan
yang tidak ada nash khusus dalam Al-Qur’an dan sunnah. Berkata Ibnu Katsir
rohimahulloh:
احتج بها من ذهب من العلماء، إلى
أن المرجع في حل المآكل، التي لم ينص على تحليلها ولا
تحريمها، إلى ما استطابته العرب، في حال رفاهيتها، وكذا في جانب التحريم، إلى ما
استخبثته. [تفسير ابن كثير 3
/ 488]
Telah berhujjah dengan ayat ini, dari ulama yang
berpendapat bahwa rujukan dalam masalah halal dan haramnya makanan yang tidak
ada nash penghalalan dan pengharaman, kepada apa yang dianggap thoyyib, oleh
orang arab dalam kondisi kelonggaran (lapang) mereka, dan begitu pula pada sisi
pengharaman apa yang dianggap khobits oleh orang arab. selesai.
Pendapat diatas dikuatkan oleh Imam As-Syinqithi
rohimahullooh di Adwaaul Bayan: (7\129) dengan ucapannya:
واعلم، أن ما ذكره بعض أهل العلم
كالشافعي، من أن كل ما يستخبثه الطبع السليم من العرب،
الذين نزل القرآن عليهم، في غير حال ضرورة الجوع حرام؛ لقوله تعالى: ﴿وَيُحَرِّمُ
عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ﴾ الآية، استدلال ظاهر، لا وجه لما رده به أهل الظاهر، من
أن ذلك
أمر لا يمكن أن يناط به حكم.
“Dan ketahuilah, bahwa apa yang disebutkan oleh
sebagian ahlil ilmi seperti As-Syafi’i, bahwa segala sesuatu yang dianggap
khobits (kotor dan jorok), oleh orang yang bertabiat selamat dari orang Arob, yang
turun kepada mereka Al-Qur’an, bukan dalam kondisi terpaksa karena lapar, maka
itu haram, karena firman Alloh ta’aala {وَيُحَرِّمُ
عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ} , maka sisi pendalilan dengan ayat ini
sangat jelas (keabsahannya), dan tidak ada sisi untuk (dan tidak usah digubris)
bantahan ahlu dhohir yang mengatakan bahwa hal itu tidak bisa ditetapkan hokum
padanya”. selesai.
Dan semua sepakat bahwa Warol alias Biawak adalah
binatang khobits, kotor lagi jorok.
2. Biawak harom karena buas, sesuai dengan hadits
Abi Tsa’labah rodhialloohu’anhu :
عن أبي ثعلبة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن
أكل كل ذي ناب من السباع.[صحيح البخاري: ح 5210].
“Dari Abi Tsa’labah rodhialloohu ‘anhu
bahwasannya nabi shollalloohu’alaihi wasallam melarang memakan setiap hewan
buas yang memiliki taring.” [HR Bukhori Muslim]
Dan dari keterangan di atas, jelas sekali bahwa
Warol alias Biawak adalah binatang lumayan buas, dan bagi yang ragu akan kebuasannya,
silahkan tanya kepada yang pernah diterkam dan digigit biawak.
3. Biawak Harom karena orang-orang arob
menggolongkannya kepada binatang yang khobits (menjijikkan lagi jorok), dan
tidak memakannya.
4. Biawak harom karena ulama salaf mengharamkannya,
sesuai dengan penuturan Ad Daamiri.
5. Biawak Harom karena memangsa kotoran,
najis-najis dan serangga.
Faedah :
Adapun telor biawak dan yang segala jenis telor
maka itu halal sebagaimana kata An-Nawaawi rohimahullooh, seperti di nukil oleh
Syaikh Zakariya Al Anshori rohimahullooh di kitab Hasyiah Al Jumal (1 /
513):
فكل بيض الغراب، وكل من بيض
بومته، والسلحفاة، كذا التمساح، مع ورل حكم بيض الغراب،
في جواز أكله. وكل من بيض كل ما لا يؤكل لحمه، كذا النووي في المجموع صنفه، حيث قال: فيه
في باب
النجاسة: إن قلنا بطهارة مني ما لا يؤكل لحمه، فبيضه طاهر، يجوز أكله بلا خلاف، لأنه غير مستقذر. وفي الجواهر
للقمولي: لا يقضى بحرمته، لأنه جزم بجواز أكله، وهو ظاهر كلام المهذب، في باب البيع، حيث قال: يجوز بيع
بيض ما
لا يؤكل لحمه، من الجوارح، لأنه طاهر منتفع به، وهذه البيوض لا منفعة فيها، غير الأكل.
Maka setiap telor gagak, dan telor burung hantu,
dan kura-kura, begitu pula telor buaya, dan biawak, sama hukumnya dengan telor
gagak yaitu boleh dimakan. Dan setiap telor yang dagingnya tidak boleh dimakan,
maka telornya halal, demikian juga pendapat Nawawi di Majmu’ yang beliau
karang, dimana beliau mengatakan dalam bab najasah: kalau kita katakan bahwa
air mani binatang yang tidak boleh dimakan adalah suci, maka telornyapun suci,
boleh dimakan tanpa ada khilaf (perselisihan) diantara para ulama, karena telor
itu tidak menjijikkan. dan dalam kitab Jawahir karya Al-Qomuli disebutkan:
bahwa telor diatas tidak harom, karena dia menetapkan boleh memakannya, dan itu
dhohir ucapan pemilik kitab Muhaddzab, pada bab jual beli dimana dia
menegaskan: boleh menjual telor binatang, yang tidak dimakan dagingnya, dari
jenis Jawarih, karena itu suci, dan bisa diambil manfaat darinya, dan tidak ada
manfaat dari telor-telor ini kecuali dimakan. selesai.
Kami katakan: dari keterangan ini, bisa diambil
kesimpulan juga bahwa para ulama, seperti Nawawi rohimahullooh, dan
selainnya menganggap bahwa Warol alias Biawak adalah Haroom.
Sanggahan Terhadap Beberapa Perkara Yang Dianggap
Hujjah Bagi Yang Membolehkan Makan Biawak.
Kami tidak akan membahas secara tuntas dalam
masalah ini, yakni yang berkaitan dengan syubhat-syubhat yang mencuat,
dari sebagian kalangan yang berdalil dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat
umum, seperti firman Alloh subhaanahu wata’ala:
﴿قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ
إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ
يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ
رِجْسٌ أَوْ
فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ
رَحِيم﴾ [الأنعام : 145]
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu
yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak
memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau
daging babi – karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang
disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa,
sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka
sesungguhnya Robbmu” Ghofuur” Maha Pengampun lagi “Rohiim” Maha
Penyayang”.[QS Al An’Am 145]
Juga seperti hadits Abi Tsa’labah Al Jusyani
rodhialloohu’anhu:
عن أبي ثعلبة الخشني جرثوم بن
ناشر رضي الله عنه، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
“إن الله تعالى فرض فرائض فلا تضيعوها، وحد حدودا فلا تعتدوها، وحرم أشياء فلا
تنتهكوها، وسكت عن أشياء، رحمة لكم غير نسيان، فلا تبحثوا عنها”. حديث حسن. رواه الدارقطني وغيره.
Bersabda rosululloh shollalloohu’alaihi wasallam:
”Sesungguhnya Alloh subhaanahu wata’ala telah menetapkan kewajiban-kewajiban
maka jangan kalian remehkan, dan memberi batasan-batasan maka jangan kalian
langgar, dan mengharomkan sesuatu maka jangan kalian tentang, dan mendiamkan
sesuatu sebagai rohmat untuk kalian bukan karena lupa , maka jangan kalian
cari-cari (membahasnya dalam-dalam)”. [HHR Daaruqutni]
Karena syubhat-syubhat diatas sudah dibahas
tuntas oleh para ulama, lihat pembahasan ini di tafsir Ibnu Katsir dll.
Adapun mengenai tanggapan terhadap hadits diatas
maka cukupkan dengan perkataan Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahullooh di Al- Jami’
Uluum wal Hikam: (1 / 285)
والله أعلم، أن البحث عما لم يوجد
فيه نص خاص أو عام، على قسمين: أحدهما، أن يبحث عن دخوله
في دلالات النصوص الصحيحة، من الفتوى، والمفهوم، والقياس الظاهر الصحيح. فهذا حق، وهو
مما يتعين
فعله على المجتهدين في معرفة الأحكام الشرعية. والثاني، أن يدقق الناظر نظره، وفكره في وجوه الفروق
المستبعدة، فيفرق بين متماثلين، بمجرد
فرق، لا يظهر له أثر في الشرع، مع وجود الأوصاف المقتضية
للجمع، أو يجمع بين متفرقين، بمجرد الأوصاف الطارئة، التي هي غير مناسبة، ولا يدل دليل
على تأثيرها
في الشرع، فهذا النظر، والبحث، غير مرضي، ولا محمود.
Walloohu’A’lam, bahwa membahas apa-apa yang tidak
ada padanya nash khusus atau umum terbagi menjadi dua bagian:
Yang pertama: membahas perkara untuk masuk
kedalam dalil-dalil nash yang shohih dalam rangka mengambil fatwa, intisari
pemahaman, dan qiyas yang jelas keabsahannya, maka pembahasan seperti ini haq
(benar), bahkan suatu perkara yang mesti, harus dilakukan oleh para mujtahidin,
dalam rangka mengetahui hukum-hukum secara syar’i, (dan Insya Alloh pembahasan
kita sekarang ini pada jenis ini).
Yang kedua : membahas perkara-perkara pelik, dan
rumit, dengan menguras pikiran dalam mencari sisi perbedaan, yang jauh (perkara
yang tidak mungkin mendapat titiuk temu), seperti membahas perbedaan dua
perkara yang sama, hanya karena perkara itu tidak bisa dia cerna apa sisi
perbedaannya dalam sisi syar’iah, padahal disana ada sisi yang bisa mengantar
kepada titik temu yang benar, atau berusaha menjamak antara dua perkara yang
berseberangan hanya mengandalkan adanya beberapa sifat yang timbul secara
tiba-tiba, yang sebenarnya tidak pantas untuk di jadikan sandaran, dan tidak
membekas, dan berpengaruh sedikitpun dalam syar’iat (seperti membahas perkara
yang jelas-jelas harom, agar perpindah hukum menjadi halal atau
sebaliknya-pent), maka pembahasan seperti ini tidak diridhoi dan tidak terpuji.
selesai.
Adapun yang akan kami sanggah adalah
syubhat-syubhat ringan yang dianggap berat oleh pemiliknya, dan kami hanya
sekedar meluruskan apa yang bengkok.
1. ucapan sebagian mereka: kami belum
mendapatkan seorang ulamapun yang mengharamkannya.
Kami katakan: telah lewat dalam pembahasan
diatas, bahwa yang mengharomkannya bahkan mayoritas ulama mutaqoddimin, yakni
salaful ummah, maka kepastian seseorang akan ketidak adanya ulama yang
mengharomkannya dalam suatu masalah, yang mungkin belum dia bahas, atau dia
membahasnya tapi belum tuntas, maka perbuatan ini merupakan kecerobohan, dan
keterburu-buruan yang berlandaskan kecemburuan belaka.
2. hujjah sebagian mereka dengan Atsar Sa’id bin
Musayyab rohimahulloh yang terang-terang menghalalkannya.
Sanggahan kami: ini juga menunjukkan
keterburu-buruan dia dalam menampilkan berita, sebelum dia cek keabsahannya
terlebih dahulu, maka sebatas pengetahuan kami, atsar tersebut tidak
shohih, diriwayatkan oleh Abdurrozzaq As Shon’ani di Mushonnaf 4)\529) begini
lafadh dan sanadnya:
[8747] أخبرنا رجل من ولد سعيد بن المسيب، قال: أخبرني يحيى بن سعيد،
قال: كنت عند ابن المسيب، فجاءه رجل
من غطفان، فسأله عن أكل الورل، فقال: لا بأس به،
وإن كان معكم منه شئ فأطعمونا.
Berkata ‘Abdurrozzaq: telah mengkhabarkan
kepadaku seorang laki-laki dari anak (keturunan) Sa’id bin Musayyab dia
berkata: telah mengkhabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id, dia berkata: aku sedang
duduk bersama Sa’id bin Musayyab, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari
Ghothofaan, bertanya kepadanya tentang makan warol, maka dia menjawab: tidak
mengapa, kalau seandainya kamu memiliki sisa dagingnya, maka berilah kami.
Sanad atsar ini dho’iif (lemah), karena
didalamnya ada seorang yang mubham (yang tidak disebutkan namanya), dan mubham
lebih parah dari pada majhul, dan keduanya masuk pada kriteria dho’if .
Jadi tidak bisa dijadikan sandaran penghalalan
ini kepada Sai’id bin Musayyab.
Kalau seandainya atsar itu shohih, itupun bukan
hujjah, karena sekedar ijtihad beliau, lebih-lebih ijtihadnya bertentangan
dengan yang lainnya, walaupun beliau rohimahulloh tetap mendapatkan satu
pahala. Wallohu ‘alam.
3. Alasan sebagian mereka, dengan ucapan
‘Abdurrozzaq As-Shon’ani rohimahulloh: (الورل:
شبه الضب) bahwa Warol itu menyerupai Dobb.
Bantahan: Ucapan beliau bisa dibawa kepada dua
makna: pertama: menyerupai dalam sisi bentuk dan gambarnya, serta melatanya,
maka persamaan dari sisi ini benar, walaupun ada perbedaan ukuran dan bobotnya,
(dan yang nampak dari ungkapan beliau adalah dari sisi ini). Makna kedua:
serupa dalam hukum halalnya, maka ini keliru dalam beberapa sisi:
1. Dhobb ada nash dari rosululloh
shollalloohu’alaihiwasallam akan kehalalannya adapun Warol tidak ada.
2. Dhobb bukan binatang buas, makanannya rerumputan
dan tumbuh-tumbuhan, adapun Warol binatang super buas lagi makan ular dengan
ganas.
3. Dhobb disukai oleh orang Arob, adapun Warol
mereka jijik dengannya dan enggan memakannya.
4. Dhobb tidak disifati sebagai binatang dholim,
bahkan kadang hidup dengan manusia, adapun Warol disifati sedholim-dholimnya
binatang.
5. Dhobb bentuknya kecil, dan tidak membahayakan,
adapun Warol ada yang sampai bisa makan anak sapi, dan sangat membahayakan.
6. Dhobb hanya didapatkan di daratan Arob dan
hampir-hampir tidak didapati di luar arab sebagaimana berkata sebagian
pengarang, sementara warol terdapat di banyak tempat.
7. Alasan sebagian mereka dengan ungkapan Syaikh
Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh.
Sanggahan: kami kira orang yang membawa nama
beliau salah presepsi, dan hanya mengambil sebagian ungkapan beliau,
begini lafadhnya di kitab liqooaat albaab almaftuuh (183\30):
حكم التداوي بدهن الورل أو بالنجاسات
Hukum Berobat Dengan Minyak Warol Atau
Yang Najis-najis.
السؤال: ما حكم التداوي بدهن الورل؟ هل ورد في كتاب؟
الجواب: أولاً: الورل من الذي سوف
يصيده؟ السائل: صيده سهل. الشيخ: وهل نزل قرآن أو ثبت
بالتجارب أن دهنه مفيد؟ السائل: نعم. الشيخ: إذاً: لا بأس به، لكن إذا أردت الصلاة
فاغسله، فإذا قال قائل: (إن الله لم يجعل شفاء هذه الأمة فيما حرم عليها)؟ نقول:
إن الله
ما حرم علينا أن ندهن به، حرم علينا أكله، أو شرب دهنه، أو ما أشبه ذلك، أما أن نمسح به أجسادنا، ونحن قد
جربنا ذلك، ونفع فلا بأس، لكن عند الصلاة يجب التطهر منه.
السائل: رجل ………. ما هو؟ الشيخ: الورل هذه دويبة يقولون: إنها شريرة، تعض الإنسان. فلا أدري تهلكه، أو تؤلمه. الورل: دابة قريبة الشبه من الضب،
لكن يستكرهها الناس، ولا تؤكل، أو أنها نجسة أيضاً. الشيخ: لا. هذا غلط، يستكرهها الناس، هناك من يستكره الضب؟ وهناك من يستكره الجراد؟ فليس
سبباً للتحريم كراهة الناس، ولهذا بعض
العرب يأكل كل ما هب ودب إلا الخنفساء، ولهذا يهنئ بعض
الناس الخنفساء، ويقولون: هنيئاً لها أن العرب لا تبيحها فلا تقتلها. أنا سمعت أن الورل شرير، يعدو على الإنسان ويعضه، ولا يمكن
أن يطلقه حتى يقطع منه اللحم، على كل حال هو دويبة خبيثة.
Pertanyaan: Apa hukum berobat dengan minyak
Warol, apakan terdapat dalam Kitab (AlQur’an)?
Jawab :
Pertama: Warol itu siapa yang bisa menangkapnya?
penanya menjawab: menangkapnya mudah.
Syaikh: Apakah ada bacaan, atau praktek sudah
terbukti dan teruji coba bahwa minyaknya berfaidah? penanya: sudah ya Syaikh.
Syaikh: kalau begitu tidak mengapa, akan tetapi
jika hendak sholat maka cucilah, kalau ada yang mengatakan: bahwa Alloh
tidakmenjadikan obat untuk umat ini dari apa yang Alloh haromkan, kami katakan
bahwa Alloh tidak mengharomkan kepada kita mengoleskan minyaknya akan tetapi yang
haromkan memakannya, atau meminum minyaknya, atau yang semacamitu, adapun kalau
kita menyentuhkan (mengolesi) badan kita dengannya, dan telah kita coba, dan
memberi manfaat maka tidak mengapa, akan tetapi ketika sholat wajib disucikan
darinya.
Ada Penanya berkata : Wahai Syaikh, apa itu
warol?
Syaikh: Warol itu binatang melata (reptile),
mereka mengatakan bahwa binatang itu binatang jahat ,suka menggigit manusia,
aku tidakmengetahui apakah bisa membinasakan manusia atau hanya menyakitinya ,
dan Warol itu hampir mirip dengan Dhobb,hanya saja manusia membencinya dan
jijik dengannya, sehingga binatang itu tidak dimakan ataukah karena najis juga,
adapun kalau hanya sekedar manusia jijik dan benci maka ini salah untuk
menghukuminya sebagai hewan yang harom, karena banyak diantara manusia yang
benci (jijik) terhadap dhobb dan belalang, maka bukan menjadi sebab keharoman
sesuatu kebencian manusia, oleh karena itu sebagian orang badui memakan apa
yang mereka dapatkan(tangkap), kecuali kelelawar, oleh karena itu ketika ada
orang yang menghidangkan kelelawar , mereka menyambutnya sembari mengatakan :
selamat menikmati tahukah kamu kalau orang badui tidak membolehkannya dan tidak
membunuhnya.
Aku mendengar bahwa Warol itu jahat, menerkam
manusia dan menggigitnya tidak melepasnya sampai memotong (mengambil)
dagingnya, pokoknya Warol itu khobits. selesai.
Lihatlah bahwa beliau mengaharamkan memakannya
bahkan menganggapnya najis dengan menyuruh orang yang mengoleskan minyak warol
kalau hendak sholat untuk mencucinya, juga mengatakan bahwa warol itu binatang
jahat dan khobits. Bisakah ucapan beliau ini diseret untuk mengesahkan
kehalalan warol???
Memang ada sebagian penukilan yang mengatakan
bahwa Imam Malik dan Malikiyah menghalalkannya, akan tetapi telah dimaklumi dan
diketahui oleh para ulama dan thoolibul ilmi bahwa madzhab mereka dalam masalah
ini (halal dan haromnya binatang) bersebarangan dengan dalil dan jumhurul
ulama, seperti madzhab mereka dalam menghalalkan kucing, kera bahkan binatang
buas, itu semua bertentangan dengan dalil dan mayoritas ulama. Dan bukan
mustahil kalau dalam masalah warolpun mereka menggunakan kaidah mereka ini dan
masuk dalam bab yang berlawanan dengan dalil dan jumhur.
Berkata Syaikhul Islam rohimahulloh seperti
di Majmu’ Fatawa (21/6):
إن أهل المدينة، مالكا وغيره،
يحرمون من الأشربة، كل مسكر، كما صحت بذلك النصوص، عن
النبى صلى الله عليه وسلم من وجوه متعددة، وليسوا فى الأطعمة كذلك، بل الغالب عليهم فيها
عدم التحريم.
فيبيحون الطيور مطلقا، وإن كانت من ذات المخالب، ويكرهون كل ذي ناب من السباع، وفى تحريمها عن مالك
روايتان، وكذلك فى الحشرات، عنه هل هى
محرمة أو مكروهة روايتان، وكذلك البغال، والحمير، وروي
عنه أنها مكروهة، أشد من كراهة السباع، وروي عنه انها محرمة بالسنة، دون تحريم الحمير، والخيل أيضا، يكرهها، لكن دون كراهة
السباع.
Bahwa Ahlul Madinah Malik dan selainnya
mengaharomkan semua jenis minuman yang memabukkan sebagaimana telah shohih
nash-nash dari nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam dari berbagai jalan, akan
tetapi mereka (Malik dan Ahli Madinah) tidak demikian dalam masalah makanan, bahkan
kebanyakan mereka tidak mengharomkan, maka mereka membolehkan makan semua
burung secara mutlak walaupun memiliki cakar, dan memakruhkan semua binatang
buas yang bertaring , dan dalam pengharamannya dari Malik rohimahulloh ada dua
riwayat, begitu pula dalam masalah serangga-serangga apakah beliau
mengharomkannya atau hanya memakruhkannya, ada dua riwayat, begitu pula pada
Bighol (persilangan antara kuda dan keledai) dan keledai, diriwayatkan darinya
bahwa kemakruhannya melebihi kemakruhan binatang buas , dan ada riwayat darinya
bahwa bighol itu harom dengan sunnah dibawah keharoman keledai, dan kuda juga
dia memakruhkannya akan tetapi dibawah kemakruhan binatang buas. Selesai.
Penutup
Demikian sedikit yang bisa kami jelaskan dalam
masalah ini, semoga bisa memberi siraman nasehat bagi mereka yang masih
memangsanya, dan sebagai penghilang dahaga bagi yang mencarinya.
وصلى الله
على نبينا وعلى آله وسلم تسليما
سبحانك
اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Sumber : www.isnad.net
أخوكم أبو تراب سيف بن حضر الجاوي
بنكولو 15
جمادى الأولى 1433 هـ
Sumber : www.isnad.net
0 komentar:
Posting Komentar